BUKAN AROGANSI TAPI REFLEKSI

Apresiasi sebagai Juara 1 Menulis Artikel Bangga Menjadi Pendidik

Saya seorang guru. Ini identitas yang paling kuat dalam diri saya. Apakah menjadi guru ini sebuah keterpaksaan karena tidak ada pekerjaan lain? Adalah sebuah pertanyaan yang akan terus update dan kontekstual sebagai sarana refleksi untuk memurnikan motivasi.

Bicara mengenai tindakan itu sebuah panggilan atau keterpaksaan, saya ingat apa yang dikatakan pengusaha muda sukses, Reino Barack pada acara talk show di salah satu stasiun televisi swasta. Menjawab pertanyaan, “Apa yang mendorong Reino Barack penguasaha super sukses masih mau mendampingi UMKM?” Ia menjawab dengan sangat tenang, “Ini seperti panggilan. Saya merasakan ada sesuatu lubang kosong yang harus saya isi. Saya tidak tahu kenapa saya mau mengisi ini; tapi saya harus melakukan. Ini sebenarnya berawal dari nasihat papa saya. “kamu memang mengalami kesulitan, tetapi ada banyak orang lebih sulit daripada kamu-yang dimaksud adalah UMKM”

Juara 1 lomba menulis artikel Bangga Menjadi Pendidik diselenggarakan MPK KAJ

Menjadi guru. Saya sendiri tidak tahu persis kenapa saya menjadi guru. Saya memulai bulan Mei tahun 2000 di SMA St. Kristoforus II, Palem Lestari Jakarta Barat. Tahun-tahun berikutnya saya makin terlibat di dalam dunia sekolah. Tugas tambahan diberikan kepada saya dari wakil kepala sekolah sampai kepala bagian pendidikan di Yayasan.

Saya merasa tidak bisa, tidak berada di dunia pendidikan. Jika panggilan dimaknai seperti Reino sampaikan di atas, “ada lubang kosong yang harus saya isi” nampaknya menjadi guru adalah panggilan saya. Pertanyaannya kemudian adalah lubang kosong itu ada di dalam diri saya atau di luar diri saya? Saya melihat justru lubang kosong ini ada di dalam diri saya. Saya selalu ingin mengisi lubang itu, dan itu adalah hal terbaik yang harus saya lakukan di dunia sekolah atau pendidikan.

Lubang kosong itu sering saya sebut “kegelisahan” Saya sering merasa gelisah melihat kekurangmaksimalan di sekolah atau pendidikan. Kegelisahan ini yang mendorong saya melakukan “sesuatu’ untuk menutupinya. Banyak kekurangan yang membuat saya gelisah. Dan itu saya lakukan melalui menulis.

Saya banyak menulis artikel dan beberapa buku, termasuk saya mengikut lomba menulis. Itu semua sebagai tindaklanjut menyembuhkan kegelisahan saya terhadap kekurangan yang saya lihat di pendidikan. Saya banyak menulis artikel di kompasiana.com (akun saya https://www.kompasiana.com/bimabela.com)

Refleksi yang saya tulis sebagai seorang guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah di Yayasan Buddha Tzu Chi berjudul “Berani Membuat Perbedaan Positif Perutusanku Menjadi Guru dan Kepala Sekolah di Sekolah Non Katolik” saya ikutkan dalam lomba menulis yang diselenggarakan oleh Komisi Pendidikan Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Jakarta (MPK KAJ) dalam rangka merayakan Natal 2022. Artikel ini diberi penghargaan sebagai Juara 1. Tentu ini bukan pertama-tama bahwa artikel tersebut baik dari kaidah penulisan tetapi lebih dari itu saya yakin karena memberi inspirasi guru sebagai panggilan.

Mendapatkan Juara Favorit Lomba Menulis di Kompasiana topik Platform Merdeka Mengajar

Beberapa artikel lain yang mendapatkan penghargaan di Kompasiana dapat dilihat di akun kompasiana saya. Salah satu teranyar adalah Platform Merdeka Mengajar Solusi Cerdas Bagi Pembelajaran Berkualitas” yang diganjang sebagai juara favorit. Tentu senang menadapatkan hadiah sebagai penghargaan mengikut lomba tetapi lebih dari itu adalah saya ingin berkontribusi melalui tulisan. Bagi saya tulisan adalah refleksi diri yang mengasah saya lebih memahami apa yang saya tahu, dan insyallah pembaca mendapatkan manfaat baiknya.

Buku Kamu Itu Istimewa membahas 3 aspek kecerdasan (Intrapersonal, Interpersonal dan Profesional)

Beberapa refleksi dalam bentuk buku cetak antara lain, Tips Memilih Nama Baptis dan Makna Simbol Liturgi Baptis, Belajar Menjadi Orangtua Katolik, Kamu Itu Istimewa dan 10 Elemen Pedagogi Guru Merdeka.

Buku ini berisi 10 elemen pedagogi yang sangat penting untuk dikuasai guru era Kurikulum Merdeka

Ini adalah refleksi bukan sebuah arogansi; ini adalah cara berkontribusi. Karena “hidup adalah soal kontribusi bukan kompetisi”